terjemahan The Time Machine (1895)
![[xp]](http://ampiran.byethost17.com/xp/berkas/images/ico.jpg)
bikinan H.G. Wells (1866—1946)
«5
7»
‘Mungkin ini aneh buatmu, tapi butuh dua hari sebelum aku bisa temukan petunjuk baru biar segala penampakan bisa dengan memadai terjelaskan. Kulihat penyusutan yang unik dari tubuh-tubuh tak normal itu. Warna mereka setengah bulai seperti cacing dan benda-benda lain yang diawetkan, persis yang kita lihat di museum-museum zoologi. Dinginnya tubuh mereka terasa menjijikkan kalau disentuh. Mungkin rasa tidak nyaman berurusan dengan Morlock ini bermula dari pengaruh simpatik para Eloi, yang kejijikannya terhadap Morlock mulai bisa kuhargai.
‘Malam berikutnya aku tidak bisa tidur nyenyak. Kesehatanku mungkin sedikit terganggu. Aku terlalu tertekan oleh pertanyaan dan kebimbangan. Satu dua kali kurasakan ada ketakutan yang tak bisa kujelaskan asalnya. Kuingat saat-saat aku bergerak tanpa suara di aula besar tempat orang-orang kecil sedang tidur di bawah sinar bulan—Weena sedang bersama mereka—dan aku merasa percaya diri dengan kehadiran mereka. Aku juga sempat berpikir bahwa dalam beberapa hari, bulan sudah akan melampaui perempat terakhirnya, yang berarti, malam akan makin kelam, dan penampakan makhluk-makhluk bawah tanah, lemur-lemur memutih itu, akan makin sering. Dalam dua hari ini aku rasakan kegelisahan seperti seseorang yang dengan sengaja mangkir dari tugas yang tak terhindarkan. Aku yakin benar bahwa satu-satunya cara mengambil Mesin Waktu ialah dengan tanpa gentar menembus pekatnya misteri bawah tanah. Tapi aku tetap tak bisa menghadapi misteri. Andai aku punya kawan sudah pasti segalanya akan berbeda. Tapi aku benar-benar sepi sendiri sampai-sampai sekadar membayangkan menuruni sumur itu saja sudah membuatku begidik ngeri. Mungkin kalian tidak akan paham apa yang kurasakan, namun pada kenyataannya, tak pernah aku merasa aman.
‘Kegelisahan, kekhawatiran inilah yang mungkin mendorongku makin jauh dan jauh berkeliaran tak tentu arah. Begitu aku pergi ke arah Barat Daya mendekati kampung di ketinggian yang saat ini disebut Combe Wood, mataku jauh memandang, ke arah tempat yang pada abad kesembilan-belas disebut Banstead. Di sana ada bangunan besar warna hijau, berbeda dengan yang sejauh ini kulihat. Ukurannya lebih besar dari istana atau reruntuhan yang kutahu, dan dari depan tampak bernuansa Oriental: bagian depan berlapis keramik berwarna hijau pucat, semacam hijau kebiruan yang biasa terlihat di porselen Cina. Perbedaan karakter ini menunjukkan perbedaan kegunaan, dan aku berniat untuk menerobos dan melihati isinya. Tapi hari sudah sore dan aku baru sampai di tempat itu setelah berputar-putar lama sekali sampai aku capai sendiri; makanya kuputuskan aku akan tahan petualangan sampai hari berikutnya, lalu aku kembali menuju sentuhan lembut si mungil Weena. Tapi keesokan paginya aku sepenuhnya sadar bahwa rasa-ingin-tahuku, penasaranku kemarin soal Istana Porselen Hijau hanyalah upayaku menipu diri, yang memungkinkanku menghindari pengalaman yang sangat kutakutkan untuk barang sehari lagi. Kuputuskan untuk segera menuruni sumur tanpa harus membuang waktu lagi, dan kumulailah perjalanan ketika hari masih pagi. Aku tuju satu sumur dekat reruntuhan granit dan aluminium.
‘Si mungil Weena ikut berlari-lari bersamaku. Ia menari-nari di dekat sumur di sampingku, tapi begitu aku menjulurkan badan ke bibir sumur dan melihat ke bawah, ia terlihat sangat terganggu. “Selamat tinggal, Weena Mungil,” kubilang, sambil menciumnya; dan setelah kuletakkan ia di tanah, aku mulai meraba pinggiran tempatku memulai pendakian menurun. Aku bergerak cepat karena, jujur saja, aku takut nyaliku keburu ciut! Awalnya Weena melihatku dengan takjub. Lalu ia menangis menghiba-hina, lari ke arahku dan mulai menarikku dengan tangannya yang kecil. Perlawanannya sepertinya menahanku untuk lanjut. Aku dorong ia, mungkin sedikit kasar, dan sekejap kemudian aku sudah meninggalkan bibir sumur. Kulihat wajah sedih Weena di pinggiran, dan aku melempar senyum untuk menenangkannya. Lalu aku harus hati-hati menemukan pegangan tonjolan rapuh yang bisa kujadikan pegangan.
‘Aku harus merangkak menuruni liang yang dalamnya sekitar dua-ratusan meter. Pergerakanku tertolong semacam bilah logam yang menjorok dari sisi sumur. Sepertinya sumur ini dirancang untuk makhluk yang jauh lebih kecil dan ringan, makanya begitu cepat aku terserang kram dan kelelahan. Tak sekadar kelelahan! Satu bilah tiba-tiba bengkok akibat berat-badanku sampai-sampai hampir saja aku terjun bebas ke kedalaman. Beberapa lama aku harus berpegangan dengan satu tangan, dan setelah pengalaman ini, aku tidak berani lagi istirahat meski sejenak. Meski lengan dan punggungku sangat sakit, aku terus merangkak turun secepat-cepatnya. Kalau kutengok ke atas, terlihat mulut sumur, sekarang jadi seperti piringan warna biru, satu bintang ada di sana, sementara kepala si mungil Weena terlihat seperti bulatan gelap. Bunyi gemuruh mesin dari bawah terdengar semakin keras dan mengancam. Semua kecuali piringan kecil nun jauh di atas benar-benar gelap, dan ketika aku mendongak lagi, Weena sudah hilang.
‘Aku benar-benar merasa tersiksa. Sempat terlintas pikiran untuk kembali menaiki sumur dan tidak lagi mengutak-atik Dunia Bawah. Tapi sembari berpikir aneh-aneh seperti ini, tubuhku tetap bergerak ke bawah. Akhirnya, leganya aku, setelah kulihat samar satu lubang kecil di dinding, sekitar tiga puluh sentimeter di sisi kananku. Aku masuki lubang itu yang rupanya pintu menuju satu terowongan horizontal yang memungkinkanku untuk berbaring beristirahat. Terlalu terlambat. Lenganku telanjur sakit, punggungku kram, dan aku sampai gemetaran gara-gara tadi hampir jatuh. Di samping itu, kegelapan yang pekat membuahkan efek tak enak di mataku. Udara dipenuhi bunyi mesin yang memompanya ke bawah.
‘Entah berapa lama aku berbaring. Aku dikejutkan satu tangan lembut yang menyentuh mukaku. Dalam gelap segera kuraih sebatang korek dan buru-buru kunyalakan, dan kulihat, sedang membungkuk tiga makhluk yang serupa dengan yang kulihat di reruntuhan. Mereka buru-buru mundur begitu melihat cahaya. Setelah hidup dalam alam yang bagiku tampak seperti kegelapan tak tertembus, mata mereka jadi besar dan sensitif secara tak normal, seperti pupilnya ikan-ikan di laut dalam yang juga memantulkan cahaya dengan cara yang sama. Aku yakin mereka bisa melihatku meski tanpa penerangan memadai, dan mereka tampak tidak takut sama sekali padaku, selain ke korekku. Tapi begitu aku nyalakan lagi untuk melihat mereka, mereka sempoyongan menjauh, menghilang dalam gelapnya gorong-gorong dan terowongan, dengan mata yang menatapku dengan nyalang.
‘Aku coba memanggil mereka, tapi bahasanya rupanya berbeda dengan yang dipakai di Dunia Atas; seakan mendadak terserang nafsu besar tenaga kurang, keinginanku untuk balik semakin menjadi. Kubilang ke diri sendiri, “Kau sudah sampai di sini sekarang,” dan, begitu kutemukan jalan di sepanjang terowongan, bunyi mesin terdengar makin keras. Saat ini dinding kurasa semakin jauh dan sampailah aku di satu tempat terbuka yang lapang, dan setelah kunyalakan satu korek lagi, terlihatlah bahwa aku telah memasuki satu liang yang besar, sampai ke satu sudut yang tak terjangkau cahaya korekku lagi. Pemandangan yang kulihat tak lebih dari apapun yang terlihat ketika seseorang sedang menyalakan korek.
Ingatanku sudah tentu jadi kabur. Mesin-mesin besar bermunculan samar-samar dan menciptakan bayangan yang mencekam, tempat para Morlock berlindung dari cahaya. Tempat ini, ngomong-ngomong, pengap dan bikin muak, sementara hembusan nafas dari darah yang masih segar begitu terasa. Ada meja kecil warna putih di suatu tempat di sekitar tengah ruangan, tempat diletakkannya sesuatu yang sepertinya makanan. Morlock sepenuhnya karnivora! Bahkan pada saat itu, aku masih ingat betapa aku bertanya-tanya tentang hewan besar jenis apa yang bisa tersasar di meja itu. Segalanya terlalu samar: bau menyengat, bentuk-bentuk besar yang tak jelas maksudnya, figur-figur menjijikkan yang tampak hanya seperti bayangan, dan hanya bisa menunggu gelap sebelum mendatangiku lagi! Dan korekku habis terbakar sampai jariku tersengat, lalu jatuh, tampak bengkok kemerahan dalam kegelapan.
‘Saat itu mulai kusadari betapa aku tak dilengkapi peralatan mencukupi untuk nekad berpetualang seperti itu. Waktu aku mulai dengan Mesin Waktu, yang kugenggam di pikiranku hanyalah anggapan absurd bahwa orang-orang dari Masa Depan pasti jauh lebih maju dari jaman kita kalau menyangkut peralatan yang mereka punya. Aku datang tanpa senjata, tanpa obat-obatan, tanpa apapun yang bisa dirokok—kadang aku rindu sekali ke tembakau—dan bahkan tanpa korek mencukupi. Andai sempat terpikir soal Kodak! Aku pasti sudah bisa memotret kelebat Dunia Bawah dalam sedetik, untuk bisa kuamati kemudian dengan tenang. Tapi, aku hanya bisa berdiri di sana dengan senjata dan kekuatan yang dikaruniakan Alam—tangan, kaki, dan gigi; ini saja, dan empat batang korek yang tersisa.
‘Aku sangat takut untuk terus lanjut di antara mesin-mesin yang bekerja dalam gelap, dan dengan sekilas pandangan bisa kuketahui kalau persediaan korekku sudah menipis. Tak pernah terpikir sampai saat itu, bahwa aku harus menghemat korek-korek itu, dan hampir setengah kotak kuhabiskan demi mengagumi orang-orang Dunia Atas yang masih menganggap api sebagai kebaruan. Saat ini, seperti kubilang, hanya ada empat batang yang tersisa, dan sementara aku berdiri dalam gelap, satu tangan menyentuhku, jari yang lentik merasakan wajahku, dan aku merasakan semacam bau aneh yang menyengat. Sepertinya kudengar nafas dari segerombolan makhluk-makhluk mengerikan itu yang mengerumuniku. Terasa, kotak korek di tanganku perlahan direbut, dan satu tangan dari belakangku menyentil bajuku. Perasaanku sungguh tidak enak ketika makhluk-makhluk tak tampak ini sedang mengamatiku. Fakta bahwa aku sama sekali tak tahu bagaimana cara berpikir dan bertindak mereka tiba-tiba mengganggu pikiranku, terbayang dengan jelas dalam kegelapan. Aku teriaki mereka sekeras-kerasnya. Sesaat mereka menjauh, lantas tak lama kemudian kembali mengerumuniku. Semakin beranilah mereka memegangiku, membisikkan bunyi-bunyi aneh ke sesamanya. Aku benar-benar gemetaran, dan makin tak jelas kuteriaki mereka. Kali ini mereka tidak lagi terkesiap dan bahkan tertawa-tawa sewaktu kembali mendekatiku. Kuakui, aku benar-benar ketakutan. Aku putuskan untuk menyalakan satu korek lagi dan kabur bermodal cahaya yang dihasilkan. Benar kulakukan. Dengan sulutan selembar kertas dari kantung celana, aku mundur ke arah terowongan yang sempit. Aku benar-benar susah memasukinya begitu cahaya terhembus sementara di kegelapan bisa kudengar gerakan para Morlock yang seperti angin di antara dedaunan, berdesingan seakan mengejarku di bawah guyuran hujan.
‘Tak seberapa lama aku dipegang beberapa tangan, dan aku betul-betul yakin kalau mereka berusaha menahanku. Kunyalakan lagi satu korek dan kukibaskan di depan muka mereka. Sangatlah sukar kalian bayangkan, betapa menjijikkan dan tak manusiawinya tampang mereka—pucat, tanpa dagu, mata besar tapi tanpa bulu mata, kelabu campur merah muda!—tampak waktu mereka menatapku dalam kekelaman dan kebingungan. Tapi aku tak mau berlama-lama lagi hanya untuk melihat, kutegaskan ke kalian: aku mundur lagi, dan ketika korek keduaku mati, kunyalakan yang ketiga. Sudah hampir habislah yang ini waktu berhasil kucapai pintu menuju liang ke atas. Aku berbaring di tepian begitu bunyi hentakan pompa dari bawah membuatku gamang. Lalu kutemukan tepian dari satu bilah pijakan bersamaan dengan kakiku yang terasa direngkuh dari belakang, dan aku ditarik mundur dengan kasar. Kunyalakan korek terakhir … dan dengan cepat korek itu padam. Tapi saat ini, tanganku sudah di pegangan untuk mendaki. Setelah kutendang-tendangkan kaki dengan keras, aku lepaskan diri dari cengkeraman para Morlock dan dengan cepat aku naik melewati liang. Para Morlock itu tetap mengamatiku dan berkedip-kedip ke arahku: hanya satu yang mengikutiku tapi ia sukses menjadikan sepatuku kenang-kenangan.
‘Pemanjatan selanjutnya seakan begitu panjang dan lama. Di sepuluh sampai lima meter terakhir, kepalaku terasa sangat-sangat pening. Dengan susah payah aku pertahankan pegangan. Aku tahan-tahan di beberapa meter terakhir supaya tidak pingsan. Akhirnya, entah bagaimana, sampai juga aku di bibir sumur, dan terseok-seok di reruntuhan yang diterpa cahaya yang menyilaukan. Wajahku menghantam tanah. Karena begitu leganya, tanah pun jadi terasa bersih, manis. Lalu kuingat Weena menciumi tangan dan telingaku, disusul suara-suara Eloi lainnya. Dan, untuk beberapa lama, aku pingsan.
«5
7»