Mesin Waktu 7

terjemahan The Time Machine (1895) [pGutenberg] [en.wikipedia] [xp]

bikinan H.G. Wells (1866—1946) [en.wikipedia]

versi interaktif

«6

 

‘Sekarang keadaanku benar-benar lebih buruk dari sebelumnya. Kecuali saat gelisahnya aku di malam Mesin Waktu hilang, sampai saat itu selalu terasa ada harapan untuk akhirnya bisa lari. Tapi harapan ini pun digoncang oleh temuan baru tadi. Sampai saat itu, selain dihalangi sebentuk kekuatan misterius yang cara penaklukannya masih belum kutemukan, kukira akalku hanya dihalang-halangi oleh kepolosan manusia-manusia kecil kekanakan itu; tapi, sekarang, di keseluruhan cerita, ada elemen baru dalam diri Morlock-Morlock menjijikkan itu—satu elemen yang tak manusiawi dan keji. Membuatku jengah secara naluriah. Kalau sebelumnya aku ini seperti orang yang gamang, seperti sedang di bibir sumur dan takut terjerembab—ketika perhatian hanya tertuju ke lubang dan bagaimana keluar darinya—maka sekarang aku seperti binatang yang masuk perangkap, hanya menunggu waktu sebelum didatangi si penjerat.

‘Musuh yang kutakuti mungkin mengejutkanmu. Seperti gelapnya bulan baru. Weena sudah menularkan ketakutan ini ke kepalaku lewat beberapa ungkapan tentang Malam-malam Gelap; ungkapan yang awalnya tidak bisa kupahami. Sekarang, bukan lagi masalah besar untuk sekadar menerka, apa sebenarnya yang dimaksud Malam Gelap. Bulan semakin menyabit: interval gelap kala malam semakin panjang. Dan sekarang, sampai batas tertentu, paling tidak, aku bisa memahami alasan kenapa orang-orang mungil Dunia Atas begitu takut gelap. Samar-samar kubayangkan kekejian apa yang akan dilakukan Morlock dalam kegelapan. Aku mulai yakin bahwa hipotesis keduaku sama sekali keliru. Orang-orang Dunia Atas mungkin, pada suatu masa, pernah menjadi bangsawan mulia, dan Morlock ialah pelayan mekanis mereka: tapi masa ini telah lama berselang. Dua spesies yang dihasilakn evolusi lanjut dari manusia ini telah melorot ke, atau tiba di, titik temu yang sama sekali baru. Para Eloi, seperti raja-raja Dinasti Carolingian, telah sebegitu tak berdaya seperti sepah menunggu dibuang. Mereka masih menjadi penguasa bumi walau dalam kepasrahan, sebab, para Morlock, makhluk-makhluk yang telah bergenerasi-generasi di bawah tanah ini, sudah tidak tahan lagi berlama-lama berkeliaran di permukaan yang benderang. Menurutku, Morlock-lah yang membuatkan pakaian Eloi, yang mencukupi semua kebutuhannya yang mungkin masih disesuaikan dengan cara-cara lama seakan keduanya masih dalam hubungan tuan dan pelayan. Morlock melakukannya seperti halnya kuda yang menjejak-jejakkan kakinya, seperti orang yang dengan sengaja mempermainkan dulu sebelum menghabisi binatang buruan: peninggalan perilaku dari masa lalu seperti ini masih tersisa di cetak biru mereka. Tapi, pastinya, orde lama sudah dibolak-balik di sana sini. Dendam kesumat yang terpendam lama sudah menjalar dengan cepat. Berabad-abad sebelumnya, ribuan generasi sebelumnya, manusia telah tega melemparkan saudaranya dari kemudahan, dari penerangan. Dan sekarang, saudara sedarah ini telah kembali, dan berubah! Eloi harus mulai mempelajari pelajaran lama dengan cara baru. Mereka kembali berkenalan dengan rasa takut. Dan, tiba-tiba saja, mendadak muncul di kepalaku, daging yang terhidang di Dunia Bawah. Entahlah!, aneh saja bagaimana pikiran ini mendadak tersasar di benakku: bukan seperti diperas dari hasil perenungan, tapi muncul seperti pertanyaan dari luar. Kucoba mengingat penampakannya; daging itu. Saat itu, seperti kukenali sesuatu yang tidak asing, tapi aku tidak tahu apa.

‘Walau bagaimana, betapa pun tak berdayanya manusia-manusia mungil ini, lengkap dengan rasa takut mereka yang misterius, aku tetaplah makhluk yang sama sekali berbeda. Aku datang dari jaman ini, jaman kita hidup, jaman ketika ras manusia sedang matang-matangnya, ketika rasa takut tidak melumpuhkan dan misteri bukan lagi sebuah ancaman. Paling tidak, aku masih punya kemampuan mempertahankan diri. Tanpa membuang waktu aku berniat membuat senjata, juga menemukan tempat bernaung yang bisa membuatku tidur nyenyak. Berbekal niat ini sebagai awal, aku bisa menghadapi dunia aneh ini dengan rasa percaya diri yang sempat hilang ketika aku tahu ada makhluk yang senantiasa mengintaiku malam demi malam. Rasanya, mustahil aku bisa tidur sampai peraduanku benar-benar tersisih dari mereka. Ngeri rasanya, membuatku bergidik, kalau terpikir bahwa makhluk-makhluk ini pasti sudah mengamatiku dari jauh.

‘Sore itu aku berkeliaran di seputar lembah Sungai Thames, tapi tidak ketemu barang yang bisa berguna. Semua gedung dan pohon pasti bisa dipanjati Morlock-Morlock itu, tidak ada apa-apanya dengan sumur-sumur tempat mereka lalu lalang. Lalu kembali teringat puncak Istana Porselen Hijau dan kilau dindingnya. Maka malamnya, Weena kupanggul, lalu aku berjalan menyusuri bukit, kutuju arah Tenggara. Sebelumnya, ketika pertama kali kudatangi tempat itu di sore yang sejuk sehingga jarak terasa memendek, hanya terasa tertempuh sebelas dua belas kilo. Tapi saat ini, rasanya seperti tiga puluh kilometer. Belum lagi tumit sepatu yang melonggar, dan paku mulai menembusi sol—sepatu ini sepatu tua yang biasa kupakai di dalam rumah. Aku makin kepayahan. Matahari sudah lama terbenam ketika, akhirnya, istana itu tampak, seperti siluet, hitam membelakangi kuning-pucatnya langit.

‘Weena sangat girang ketika ia baru mulai kupanggul, tapi tak lama kemudian, ia ingin turun, berlarian di sampingku, kadang sambil memetiki bunga sebelum ia selipkan di kantungku. Kantung ini selalu jadi teka-teki bagi Weena, tapi akhirnya, ia simpulkan bahwa kantung ini hanyalah sebentuk vas eksentrik tempat karangan bunga diletakkan. Paling tidak, ia bisa menggunakannya untuk sesuatu, apapun itu. Ah, ya, aku ingat! Ketika aku ganti jas, tadi ketemu ….’

Si Jeltu berhenti, memasukkan tangan ke kantungnya, dan tanpa suara ia letakkan di atas meja, dua tangkai bunga layu, mirip-mirip kuntum mallow putih. Lalu ia lanjutkan kisahnya.

‘Begitu kelam malam mulai menyelimuti sekeliling dan kami melampaui puncak bukit, mengarah ke Wimbledon, Weena kelelahan dan ingin pulang ke rumah batu abu-abu. Aku tunjuk kejauhan, ke puncak menara Istana Porselen Hijau, dan dengan susah-payah kubuat ia mengerti bahwa kami menuju ke sana untuk berlindung dari Rasa Takut-nya. Kalian pasti tahu jeda yang menghampiri semua benda ketika senja tiba, bukan? Bahkan desir angin yang menerpa pohon ikut berhenti. Bagiku, selalu ada sedikit pengharapan dari dalam keheningan seperti ini. Langit begitu cerahnya, jauh, kosong, berakhir di beberapa garis mendatar ufuk senja. Yah, malam itu, pengharapan ini mewarnai ketakutanku. Dalam keremangannya, inderaku terasa semakin menajam. Terbayang, seakan bisa kurasakan rongga di bawah tanah tempatku berpijak: bahkan seakan bisa kulihat para Morlock sedang mondar-mandir di sarang semut mereka, menunggu malam tiba. Dalam gelora seperti ini, kubayangkan bahwa mereka akan menanggapi invasiku ke terowongan mereka sebagai pernyataan perang. Habis, kenapa pula Mesin Waktu-ku mereka ambil, bukan?

‘Lalu aku teruskan perjalanan dengan tenang, dan senja makin mendekat ke malam. Cerahnya biru di kejauhan makin pudar, dan satu per satu, bintang mulai bermunculan. Tanah semakin remang dan pohon menghitam. Ketakutan dan kelelahan Weena makin menjadi. Aku bopong dia, kutenang-tenangkan dia, kubelai-belai dia. Kemudian, seiring dengan makin gelapnya sekitar, ia rangkul leherku, dan sambil menutup matanya, ia benamkan wajahnya di bahuku. Lalu kami tapaki turunan panjang menuju satu lembah sampai-sampai hampir saja aku jatuh terjerembab ke sebuah sungai kecil. Pelan kususuri sungai ini, dan kutuju sisi lain lembah, melewati rumah-rumah tempat tidur, juga sebuah patung—sepertinya patung Faun atau apa, tanpa kepala. Juga terlewati pohon-pohon akasia. Sejauh ini, tidak kulihat Morlock sebiji pun, tapi malam masih jauh dari larut sementara bulan tua yang bisa menyinari sekeliling masih berjam-jam lagi terbitnya.

‘Dari puncak bukit ke bukit satunya lagi, kulihat pepohonan lebat, terhampar melebar dan menghitam di depanku. Aku sempat ragu. Tak kulihat di mana ujungnya, baik di sisi kiri maupun kanan. Karena capai—terutama di kaki yang sangat pegal—aku berhenti, aku turunkan Weena, lalu aku duduk di rerumputan. Tak terlihat lagi Istana Porselen Hijau, dan aku benar-benar bingung harus melangkah ke mana. Kutatap lebatnya pepohonan dan mengira-ngira apa yang tersembunyi di dalamnya. Di bawah jalinan ranting-ranting itu seseorang atau sesuatu bisa saja lepas dari pengawasan bintang-bintang. Bahkan kalau tidak ada bahaya yang mengintai sama sekali—bahaya yang tak kan kubiarkan mempengaruhi imajinasiku—tetap saja ada akar-akar yang bisa membuatku terantuk dan bonggol-bonggol yang bisa kutumbuk.

‘Aku juga sangat lelah, setelah seharian bisa bersemangat; makanya kuputuskan untuk tidak meneruskannya. Aku akan lewatkan malam di bukit terbuka.

‘Weena, leganya aku, ternyata cepat tertidur. Dengan hati-hati kuselimuti ia dengan jasku, dan di sebelahnya aku duduk menunggu terbitnya bulan. Lereng bukit terlihat tenang, terabaikan, tapi dari hitamnya rerimbunan kadang terlihat kelebat sosok-sosok hidup. Di atasku, di cerahnya langit, bersinar bintang-bintang. Kerlipnya, entah bagaimana caranya, terasa menenangkan. Tentu saja semua rasi sudah hilang dari langit: pergerakan pelan yang tak akan kasat mata sampai ratusan generasi sudah merombak penampakan bintang-bintang menjadi kelompok-kelompok yang asing. Tapi di mataku, Bima Sakti tetap saja seperti hamburan debu bintang dari masa lalu. Sebelah Selatan (yah, kira-kira) ada bintang merah yang begitu terangnya, bintang yang tidak kukenali; terangnya bahkan melebihi hijaunya Sirius masa kini. Dan di antara semua titik cahaya berkerlipan ini, ada satu planet yang bersinar dengan lembut dan teratur, seperti wajah seorang kawan lama.

‘Menatap bintang-bintang tiba-tiba mengerdilkan semua masalahku, mengerdilkan semua gaya atau daya tarik makhluk-makhluk di muka bumi. Terpikirlah maha jauhnya bintang-bintang itu, dan maha lambat tapi maha tak-terelakkannya pergerakan mereka dari masa lalu ke masa depan; dua masa yang sama-sama tak jelasnya. Terbayang berpusingnya bumi dengan sedikit tak stabil, membentuk siklus presesional, menggambar kerucut khayali dengan porosnya. Hanya empat puluh kali keseluruhan revolusi ini terjadi di sepanjang perjalanan-waktuku. Dan dalam rentang waktu inilah, semua aktivitas, tradisi, organisasi yang kompleks, berbagai bangsa, beragam bahasa, beraneka khazanah susastra, aspirasi, bahkan sekadar setitik memori tentang Manusia, segala macam; semua terhapus, hilang begitu saja. Yang ada hanya makhluk-makhluk ringkih yang sama sekali lupa dengan leluhurnya, dan Benda berwarna putih yang menyekapku dalam teror. Lalu terlintas pikiran tentang Rasa Takut Yang Agung yang menghubungkan kedua spesies ini, hingga untuk pertama kalinya, dengan menggigilnya tubuhku, tanpa keraguan, akhirnya kuketahui, sebenarnya daging apa yang sebelumnya kulihat di bawah tanah. Mengerikan, memang! Kutatap Weena yang mungil, lelap di sampingku; wajahnya memutih, bersinar seperti bintang, di bawah hamparan bintang, dan seketika hilanglah pikiran mengerikan itu.

‘Sembari melewatkan malam yang panjang, sebisa mungkin kutanggalkan sejenak semua pikiran tentang Morlock, kubunuh waktu dengan menarik garis di antara bintang-bintang, terbingung-bingung mencoba mereka-reka lambang zodiak yang baru. Langit tetap cerah, hanya kadang-kadang dihalangi awan tipis. Sudah tentu aku terkantuk-kantuk, ketiduran beberapa kali. Lalu, seiring dengan makin dahsyatnya rasa kantuk, datanglah cahaya pucat di langit sisi Timur, seperti refleksi sebentuk api tanpa warna, dan terbitlah rembulan lama, rembulan kita, tipis dan putih. Dan di latar belakang, menyusullah, berhamburanlah, cahaya fajar, semula pucat, lalu makin lama makin memerah dan hangat. Tidak ada Morlock mendekat. Tak satu pun dari mereka kulihat berkeliaran di lereng, sepanjang malam itu. Dan dengan rasa percaya diri yang tinggi untuk memulai hari baru, aku sudah hampir yakin seyakin-yakinnya bahwa semua ketakutanku ialah tak beralasan adanya. Aku berdiri. Kudapati kakiku yang dibungkus sepatu bertumit longgar; bengkak di mata kaki, sakit setengah mati di tumit. Makanya aku duduk lagi, melepas sepatu, dan melemparnya sejauh-jauhnya.

‘Kubangunkan Weena, dan kami pun menuruni bukit, menembus pepohonan yang sekarang terlihat menghijau dan indah, tidak lagi hitam dan terkesan mengancam. Kami temukan buah-buahan yang menjadi santap pagi kami. Tak lama setelahnya, kami temui lagi makhluk-makhluk mungil menyenangkan, sedang tertawa-tawa, menari-nari di bawah mentari seakan malam tidak akan pernah menghampiri. Dan terpikirlah sekali lagi, tentang daging, oh, daging yang sempat kulihat. Aku yakin betul daging apa itu, dan dari lubuk terdalam hatiku, terbit rasa ibaku ke kumpulan sisa-sisa terakhir dari kejayaan kemanusiaan ini. Jelaslah bahwa pada suatu waktu di kurun Dahulu Kala ketika manusia menemui penurunannya, Morlock terserang paceklik. Mungkin mereka hanya bertahan hidup dengan tikus dan hama lainnya. Di masa kini saja, orang sudah tidak terlalu pilih-pilih lagi dengan apa yang ia makan, jauh beda dengan monyet, bahkan jauh beda dengan di awal-awal kelahiran spesiesnya. Penolakan terhadap kanibalisme bukanlah naluri yang terkubur jauh di dalam tubuh. Demikian pula halnya dengan yang kujumpai di anak turun manusia yang tak manusiawi ini …! Maaf kalau kuamati segala sesuatu dengan cara sesaintifik ini. Toh pada akhirnya, mereka tetap saja lebih hewani dibanding nenek moyang kanibal kita dari tiga atau empat ribu tahun lalu. Dan tingkat kecerdasan yang membuat pemikiran seperti ini bisa terasa mengerikan juga sudah hilang. Jadi, gitu saja kok repot? Eloi-Eloi ini tak lebih dari ternak yang sedang digemukkan, dipelihara untuk kemudian dimangsa—mungkin memang sengaja dikembang-biakkan dari awal oleh—para Morlock yang berkoloni mirip semut. Sedangkan Weena, ah, ia menari-nari di sampingku!

‘Lalu aku coba bertahan dari horor yang sebelumnya menggerogotiku, dengan menganggap bahwa ini semua ialah hukuman untuk manusia yang hanya mementingkan diri sendiri. Manusia pernah hidup tenang dalam kenyamanan dan kemewahan yang harus disokong pengorbanan sesamanya. Manusia pernah memakai kata Keniscayaan sebagai slogannya, dalihnya. Dan ketika tiba waktunya, akhirnya Keniscayaan jugalah yang menghampirinya. Berlagak seperti Carlyle, aku bahkan mencoba mencemooh aristokrasi bobrok ini. Tapi, cara berpikir seperti ini ternyata mustahil. Betapa pun dahsyatnya keruntuhan intelektual yang menimpa makhluk-makhluk ini, sifat-sifat manusiawi yang tersisa di diri mereka tetap menerbitkan simpati, tetap menggiringku untuk menjadi bagian dari degradasi mereka, Rasa Takut mereka.

‘Saat itu aku punya ide kasar tentang cara yang harus kutempuh. Yang pertama, aku harus menemukan tempat aman untuk bernaung, lalu melengkapi diriku dengan persenjataan dari logam atau batuan yang bisa kurancang. Ini ialah syarat yang harus segera dipenuhi. Selanjutnya, kuharap bisa kutemukan alat membuat api, jadi aku bisa bersenjatakan obor di tangan yang, sepanjang pengetahuanku, tidak bisa ditandingi efisiensinya kalau Morlock ialah makhluk yang harus dihadapi. Setelahnya aku harus merancang alat untuk mendobrak pintu perunggu di bawah Sings Putih; mungkin sejenis pentungan. Aku yakin bahwa andai pintu ini berhasil kutembus, dengan obor tersulut di tangan, bisa kutemukan Mesin Waktu, lalu kabur. Kubayangkan, Morlock tidak akan sekuat itu sampai bisa memindahkan Mesin Waktu jauh-jauh. Lalu kuputuskan, Weena akan kubawa ke sini, masa kita ini. Dan setelah membolak-balik rencana ini di pikiran, aku mulai menapaki jalan menuju gedung yang akan kupilih sebagai tempat bernaungku.

versi interaktif

«6

 

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.