Mesin Waktu 7

2009/09/25 - Leave a Response

terjemahan The Time Machine (1895) [pGutenberg] [en.wikipedia] [xp]

bikinan H.G. Wells (1866—1946) [en.wikipedia]

versi interaktif

«6

 

‘Sekarang keadaanku benar-benar lebih buruk dari sebelumnya. Kecuali saat gelisahnya aku di malam Mesin Waktu hilang, sampai saat itu selalu terasa ada harapan untuk akhirnya bisa lari. Tapi harapan ini pun digoncang oleh temuan baru tadi. Sampai saat itu, selain dihalangi sebentuk kekuatan misterius yang cara penaklukannya masih belum kutemukan, kukira akalku hanya dihalang-halangi oleh kepolosan manusia-manusia kecil kekanakan itu; tapi, sekarang, di keseluruhan cerita, ada elemen baru dalam diri Morlock-Morlock menjijikkan itu—satu elemen yang tak manusiawi dan keji. Membuatku jengah secara naluriah. Kalau sebelumnya aku ini seperti orang yang gamang, seperti sedang di bibir sumur dan takut terjerembab—ketika perhatian hanya tertuju ke lubang dan bagaimana keluar darinya—maka sekarang aku seperti binatang yang masuk perangkap, hanya menunggu waktu sebelum didatangi si penjerat.

‘Musuh yang kutakuti mungkin mengejutkanmu. Seperti gelapnya bulan baru. Weena sudah menularkan ketakutan ini ke kepalaku lewat beberapa ungkapan tentang Malam-malam Gelap; ungkapan yang awalnya tidak bisa kupahami. Sekarang, bukan lagi masalah besar untuk sekadar menerka, apa sebenarnya yang dimaksud Malam Gelap. Bulan semakin menyabit: interval gelap kala malam semakin panjang. Dan sekarang, sampai batas tertentu, paling tidak, aku bisa memahami alasan kenapa orang-orang mungil Dunia Atas begitu takut gelap. Samar-samar kubayangkan kekejian apa yang akan dilakukan Morlock dalam kegelapan. Aku mulai yakin bahwa hipotesis keduaku sama sekali keliru. Orang-orang Dunia Atas mungkin, pada suatu masa, pernah menjadi bangsawan mulia, dan Morlock ialah pelayan mekanis mereka: tapi masa ini telah lama berselang. Dua spesies yang dihasilakn evolusi lanjut dari manusia ini telah melorot ke, atau tiba di, titik temu yang sama sekali baru. Para Eloi, seperti raja-raja Dinasti Carolingian, telah sebegitu tak berdaya seperti sepah menunggu dibuang. Mereka masih menjadi penguasa bumi walau dalam kepasrahan, sebab, para Morlock, makhluk-makhluk yang telah bergenerasi-generasi di bawah tanah ini, sudah tidak tahan lagi berlama-lama berkeliaran di permukaan yang benderang. Menurutku, Morlock-lah yang membuatkan pakaian Eloi, yang mencukupi semua kebutuhannya yang mungkin masih disesuaikan dengan cara-cara lama seakan keduanya masih dalam hubungan tuan dan pelayan. Morlock melakukannya seperti halnya kuda yang menjejak-jejakkan kakinya, seperti orang yang dengan sengaja mempermainkan dulu sebelum menghabisi binatang buruan: peninggalan perilaku dari masa lalu seperti ini masih tersisa di cetak biru mereka. Tapi, pastinya, orde lama sudah dibolak-balik di sana sini. Dendam kesumat yang terpendam lama sudah menjalar dengan cepat. Berabad-abad sebelumnya, ribuan generasi sebelumnya, manusia telah tega melemparkan saudaranya dari kemudahan, dari penerangan. Dan sekarang, saudara sedarah ini telah kembali, dan berubah! Eloi harus mulai mempelajari pelajaran lama dengan cara baru. Mereka kembali berkenalan dengan rasa takut. Dan, tiba-tiba saja, mendadak muncul di kepalaku, daging yang terhidang di Dunia Bawah. Entahlah!, aneh saja bagaimana pikiran ini mendadak tersasar di benakku: bukan seperti diperas dari hasil perenungan, tapi muncul seperti pertanyaan dari luar. Kucoba mengingat penampakannya; daging itu. Saat itu, seperti kukenali sesuatu yang tidak asing, tapi aku tidak tahu apa. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Penggunaan dan Penyalahgunaan Cerita Berpigura

2009/08/24 - 4 Tanggapan

Sedikit terlambat. Pinggiran kolam belum penuh orang. Tapi Mas Trisno terlihat bersungut-sungut menjinjing kotak perlengkapannya, menghampiri meja panitia.

Bukan salahku kalau lomba memancing itu, sampai kiamat, akan tetap membosankan. Bukan salahku kalau aku pura-pura lupa hari Minggu ini ada acara. Sesampai di kolam, toh aku ditelantarkan. Laki-laki tak berperasaan!

Peserta berjejalan di tepian, sibuk mengurai umpan, lalu ribut berebut tempat kail didaratkan. Sama konyolnya dengan adu layangan. Ini masih mendingan. Mas Trisno pernah dua minggu mancing sampai—ngakunya—Danau Towuti, tanpa pamit, tanpa teman. Kegemaran masa kecil yang keterlaluan. Kalau saja aku ibu rumah tangga biasa, pasti Mas Trisno sudah kutuduh selingkuh.

Aku lihat sekitar. Jelas sekali, hanya beberapa peserta yang membawa-serta istrinya. Tidak ada hobi yang lebih egois dibanding mancing.

Aku berbalik ke Barat kolam, mendekati pujasera bernama ‘Timur Jauh’, melewati spanduk: ‘Mancing Yuk! // Danres Cup 2007’ yang terbentang di atas pintu masuk.

Kupilih tempat duduk di sisi dalam. Belum cukup siang. Matahari masih menerobos beranda. Terik.

Ternyata ini bukan pujasera. Tidak ada deretan stan makanan. Hanya ada satu meja kasir. Ini restoran, sendirian, berdiri di bawah bangunan semi permanen dengan hampir semua dinding terbuka. Kalau kolam tidak dikepung pepohonan, kalau sekarang kemarau dan rumput menggundul, debu bisa berarakan masuk.

Kutuju meja larik tengah. Tidak terlalu menempel ke meja kasir. Tidak juga terlalu jauh dari televisi yang menggantung di atas kepala kasir.

Tas kuletakkan. Aku duduk. Berusaha santai.

Ke kasir kulambaikan tangan. Si kasir mengangguk. Beberapa detik kemudian satu pelayan perempuan sudah berdiri di sampingku, mengulurkan menu.

“Biasanya selesai jam berapa, lombanya?” kutanya pelayan.

“Kurang tahu, ya, Bu. Saya masih baru di sini,” jawabnya.

“Jus sirsak aja, satu,” pesanku. “Teruuus …,” kutunjuk kalamari yang dimakan satu-satunya pengunjung lain di dekat pintu masuk, “kayak itu, tapi enggak usah pake saos macem-macem. Sambal a-be-ce aja,” lanjutku, sama sekali tanpa melihat menu.

Dia menuliskan sesuatu pada kertas di telapaknya. “Ditunggu sebentar, ya, Bu,” sambungnya sambil setengah merenggut menu di genggamanku.

Aku mengangguk, membiarkan pelayan berlalu.

Aku tidak lapar, tapi malas saja kalau kelamaan menunggu pesanan.

Kutatap televisi. Ada drama Asia Timur Raya. Dari tadi tidak ada iklan. Suaranya keras tapi layar televisi terlalu kecil untuk memampangkan terjemahan. Entah apa yang diomongkan. Lama-lama, ucapan pemeran jadi aneh: ‘mereneyo’, ‘cangkem mangan yo’, ‘nunggu ae yo’.

Pelayan yang tadi sudah datang, menurunkan jus dari nampan. “Silakaaan,” ucapnya ketika sepiring kalamari dia geser ke meja, disusul sebotol sambal.

Kuucap, “Terima ka…,” waaah! Ini salah pesan, namanya. Bukan kalamari yang dia sajikan, tapi gorengan bawang. “Mbak! Tadi saya pesen cumi goreng, kan? Kok ….”

“Ibu tadi pesan onion ring.”

“Kalamari, Mbaaak! Ya ampooon!” Aku geregetan.

Dia merengut, berusaha melarikan matanya dari tatapanku. Lalu, “Baik. Maaf ya, Bu, ya. Ditunggu sebentar, Ibu,” sambungnya seraya menarik piring di depanku.

Kudekatkan gelas jus. Kuemut sedotan. Kutarik seteguk. Manisnya minta ampooon.

Seseorang di pengeras suara membuat pengumuman. Ikan berhadiah pertama sudah tertangkap: kipas angin. Tepuk tangan dan suitan sambung-menyambung dari kolam. Aku tambah geregetan.

Kulihat kasir dan pelayan perempuan tadi saling bersitegang. Suaranya masih ditenggelamkan keriuhan. Lalu, mengejutkan!, si pelayan membanting nampan.

Pelayan tergopoh-gopoh memutari meja kasir. Dengan alis tertekuk dia menghambur ke arahku. Di tempat asalku, ini artinya hanya satu: seseorang sedang cari gara-gara. Aku bersiaga. Apapun masalah dia, bukan aku pangkalnya. Baca entri selengkapnya »

Diproteksi: Efek Eksposur V

2009/07/26 - Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: Efek Eksposur IV

2009/07/26 - Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: Efek Eksposur III

2009/07/26 - Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: